Cerpen Cinta - Benciku Atas Dasar Cinta

Cerpen Cinta - Sudah tiga tahun persahabatan sebelas remaja itu terjalin. Mereka menjalin persahabatan saat mereka sama-sama duduk di bangku SMP di sekolah yang sama, di SMP Kedamaian.

Kesebelas remaja tersebut terdiri atas empat perempuan dan tujuh lelaki. Persahabatan mereka sangat dikenal akur. Senang susah selalu bersama. Setiap hari selalu bertukar pemikiran. Ada masalah selalu diselesaikan dengan cara kekeluargaan. Suku, agama, adat dan budaya yang berbeda, bagi mereka bukan suatu masalah. Banyak orang yang salut dengan persahabatan mereka. Bahkan mereka dijuluki “Pelangi” karena menurut orang lain perbedaan bagi mereka bisa disatukan.

Namun sayang, persahabatan mereka harus terpecah belah saat Allessya kecewa dengan ketidak-jujuran Farel terhadap para sahabatnya. Hal tersebut diketahui Allessya dari Bundanya Farel tentang narkoba yang telah menemani kehidupan Farel.

Suatu hari, Pelangi berkumpul di tempat parkiran sepeda belakang sekolah. Di pertemuan itulah mereka saling melempar tawa. Namun, saat itu Allessya dan Gavin tidak hadir.

“Allessya dan Gavin ke mana?” tanya Farel pada sahabat yang lain
“Iya ya.. Mereka berdua semenjak kelas IX jarang kumpul bareng kita.” keluh Cahaya
“Apa yang mereka sembunyikan dari kita? Kenapa mereka bungkam? …” belum selesai Farel bicara, Allessya dan Gavin muncul dari balik pintu sambil bertepuk tangan
“Kita tidak menyembunyikan sesuatu. Tapi kamu!” Allessya menjawab dengan sinis
“Maksud kamu apa, Sya?” Farel bingung dengan perkataan Allessya
“Temanmu Nark*ba kan, Rel. Kenapa kamu harus kenal dengan Nark*ba? Kenapa Rel? Kenapa?” Allessya mengguncang guncangkan tubuh Farel. Tangis Allessya tidak dapat dibendung lagi. Air mata terus mengalir
“Aku lelah hidup serba ditekan, Sya. Aku telah muak dengan cekcok yang selalu hadir di dalam keluargaku. Sebenarnya aku menyesal melakukan itu. Namun apa boleh dikata, nasi sudah menjadi bubur. Semua telah terlambat Sya.” tubuh Farel lemas. Hanya air mata yang mengalir deras di pipinya.
“Aku benci denganmu Rel. Nyesel tau nggak aku kenal sama kamu.” Allessya pergi meninggalkan sahabat-sahabatnya.

Sejak saat itulah Allessya benar-benar melupakan sosok Farel yang pernah menjadi sosok orang paling penting di hidupnya. Allessya hilang komunikasi dengan Farel. Baginya Farel tidak ada di hidupnya. Sahabat Pelangi yang lain berusaha mempersatukan mereka berdua, namun sia-sia.

Hari berganti bulan. Waktu terus berlalu. Tanpa disadari, kini Pelangi semuanya sudah menjadi mahasiswa dan mahasiswi. Persahabatan mereka semakin erat. Untuk merayakan 7 tahun persahabatan mereka, mereka mengadakan pesta kecil.

“Hai kawan, bagaimana kuliah kalian?” Gavin menyapa sahabat Pelangi
“Hai.. Kuliah lancar bro. Nggak nyangka ya kita udah tua?” gurau Sahrul
“Cie … Baru nyadar ya kalau udah tua?” sahut Alex
“Husst.. Udah jujur aja kalau kita memang sudah tua.” Gavin mengimbuhi
“Kangen Allessya. Kapan kita bersatu?” Ryana menyahut
“Gue mah juga kangen, Na. Gue yang salah. Gara-gara Gue persahabatan ini retak.” Farel buka bicara
“Bukan salah kamu kok, Rel. Mungkin jalannya saja sudah seperti ini. Tapi nih ya, Allessya punya pacar. Namanya Guntur. Anak Hukum di universitas tempak kamu kuliah, Rel.” Ferren menyahut
“Guntur?! Dia sahabat karibku di kampus. Ya jika memang mereka pacaran, semoga sampai pelaminan deh. Padahal dari SMP gue naksir Allessya. Aku nggak berani ngomong kan takut aja persahabatan ini nambah rumit.” Farel bicara panjang lebar
“Ehh ternyata? Kamu naksir dia?” Gavin menggoda Farel
“Cie… Kalau ini mah ujian cinta namanya.” Alex menimpali
“Wajah merah merona tuh.. Tenang, Rel. Jodoh tak kemana.” goda Andien
Farel digoda terus terusan hingga dia mengolesi cream ke wajah sahabat-sahabatnya untuk menutupi rasa malunya.

Hari ini adalah hari terakhir Allessya pergi ke kampus. Karena besok adalah libur kuliah. Pada hari inilah Allessya bersiap-siap untuk persiapan besok. Semua barang selesai dikemas pada malam hari.
Keesokan harinya Allessya berangkat ke Bali untuk liburan. Sengaja dia berangkat sendiri karena ingin menenangkan diri. Perjalanan panjang membuat letih menghinggapi tubuhnya.
Dua hari berikutnya Allessya berencana pergi ke Pantai Nusa Dua. Setelah semua lokasi dipikirkan ternyata nama Pantai Nusa Dua memang tidak boleh ditinggal. Allessya akhirnya pergi ke pantai tersebut.

Sesampai di pantai Allessya mengobrol dengan ibu ibu penjaja makanan.
“Asal darimana, nak?” tanya bu Made
“Asal Bali juga, bu. Tapi saya telah lama tinggal di Yogjakarta.” jawab Allessya
“permisi, bu.. Pesan pop mie 10. Rasanya terserah.” pembeli tersebut duduk di sebelah Allessya
Tiba-tiba saja minuman Allessya tumpah dan membuat baju sang pembeli itu basah. Allessya sadar dari lamunannya. Akhirnya kepanikan datang.
“Wahh, maaf mas. Saya tidak sengaja.”
Ketika Allessya sibuk membersihkan minumannya yang tumpah. Pembeli itu memegang tangan Allessya. Allessya kaget dengan hal itu.
“Allessya..” pembeli itu melepas kacamata hitam yang dipakainya
“Farel?”

Allessya pergi begitu saja. Farel mengejar Allessya. Farel meraih tangan Allessya. Akhirnya Allessya menghentikan langkahnya.
“Kenapa kamu hadir lagi di hidupku, Rel? Kenapa?” Allessya berontak
“Maafkan aku, Sya. Aku tau aku salah. Maafkan aku. Tapi aku ingin persahabatan kita seperti dulu. Lakukan ini demi sahabat yang lain. Aku rela kamu benci untuk selamanya. Aku rela. Tapi selamatkan persahabatan kita ini.” Farel memohon pada Allessya
“Andaikan membencimu itu mudah, aku sudah membencimu sejak dulu. Namun aku nggak bisa Rel. Aku berulang kali belajar melupakanmu, namun aku gagal. Akhirnya aku kenal Guntur, sahabatmu. Aku tanya-tanya tentang kamu ke dia. Aku cerita semuanya padanya. Aku anggap Guntur itu kakak aku. Aku sangat dekat sama Guntur, dari sanalah teman-teman mengira aku berpacaran sama Guntur. Padahal nyatanya aku nggak pacaran. Aku nggak bisa mudah mencintai orang” Allessya cerita panjang lebar
“Kamu seriusan Sya? Kamu nggak pacaran sama Guntur?”
“Aku nggak pacaran, Rel. Aku lagi nunggu seseorang yang ingin mengatakan isi hatinya. Eh, yang ditunggu nggak peka-peka” Allessya menjawab dengan nada putus asa
“Sya.. Mungkin cowok yang kamu nanti itu bukan aku. Tapi di sini aku ingin jujur sama kamu. Aku sangat mencintaimu, Sya. Cinta ini ada sejak kita SMP dulu. Memang benar apa yang kamu katakan, bahwa aku nggak bisa membencimu. Aku hanya mengutarakan isi hatiku, Sya. Nggak ada maksud lain. Tolong jangan marah. Tapi yang utama saat ini bagiku adalah persahabatan, Sya. Maafkan aku. Kita sahabatan seperti dulu lagi ya, please..”
“Oke kita sahabatan lagi. Maafkan aku ya, Rel. Aku seperti anak kecil. Aku janji aku tidak akan sia-siakan kamu lagi, untuk yang kedua kalinya.” Allessya memeluk Farel. Air mata deras membasahi pipi Allessya
“Tuhan, jangan pisahkan kami lagi. Maafkan kebodohanku di masa lalu, yang telah menyia-nyiakan Farel.” dalam hati Allessya mengatakan itu
Sahabat Pelangi dan Guntur menyoraki mereka berdua. Mereka melepaskan pelukan dan saling menghapus air mata.

“Alhamdulillah, Pelangi utuh kembali.” teriak sahabat Pelangi
“Jadi gimana Sya, katanya kamu naksir sama Farel. Tuh dia juga naksir kamu. Jadi tunggu apalagi?” Guntur menggoda Allessya
“Tuhkan Guntur buka aib, awas kau nanti ya?” Allessya wajahnya merah karena malu
“Udah, pacaran aja. Daripada nanti diambil orang.” Gavin menggoda Allessya
Farel mengulangi mengutarakan perasaannya ke Allessya. Allessya hanya diam tanpa jawaban. Tidak berselang lama akhirnya Allessya memberikan jawaban.
“Aku membencimu atas dasar cinta. Tapi hari ini aku ingin melupakan itu. Aku mau jadi pacarmu. Tapi kalau pacaran kayak kita sahabatan ya? Jangan banyak bawa nafsu.” tukas Allessya

Akhirnya kebahagiaan Pelangi lengkap sudah. Mereka semua sudah memiliki pasangan masing-masing. Hanya Allessya dan Farel lah yang dari sahabat jadi pacar. Kebahagiaan tak berhenti di wajah Allessya, Farel juga sangat bahagia. Farel berjanji akan terus mengikuti rehab agar Nark*ba tidak merusak kebahagiannya hari ini.

SELESAI

Cerpen Karangan: Devi Tri Tania Hendriyanto
Facebook: Devi Tri Tania Hendriyanto

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel